"Mewujudkan Indonesia yang sejahtera melalui reformasi pengadaan yang efisien, transparan dan akuntabel"


Launching Layanan Pengadaan Secara Elektronik

Bupati HSS pada acara Launching LPSE di Pendopo Kabupaten tanggal 7 Nopember 2011 , dihadiri oleh perwakilan dari LKPP Direktur Monev LKPP Ir. Riad Horem, Dipl. HE , wakil Ketua DPRD, Unsur Muspida, Tokoh Masyarakat, Gapensi dan semua Stakeholder.

Minggu, 18 Agustus 2013

SETELAH LEBARAN, APA…???

Bulan ramadhan adalah bulan suci ummat islam, bulan melaksanakan ibadah puasa, bulan melaksanakan amalan-amalan yang pahalanya berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya, dan tidak ada ummat islam yang melewatkan bahkan dengan suka cita, berpuasa di siang hari dan ketika malam hari berbondong-bondong ke mesjid, langgar dan mushala untuk melaksanakan shalat tarawih, witir dan ibadah lainnya, singkat kata bulan ramadhan merupakan bulan penyucian diri untuk menggapai ketaqwaan paripurna, dan simbolisme kemenangan dirayakan dengan berlebaran, saling berkunjung, bersilaturrahmi, dan saling bermaaf-maafan, karena sebagai manusia, kita tak sempurna, tak luput dari kesalahan, khilaf dan permohonan maaf dengan ikhlas adalah jembatan untuk menggapai kefitrian sesama manusia.
Pertanyaan besarnya adalah : setelah Ramadhan dan lebaran, selanjutnya apa? Pertanyaan ini perlu mendapat renungan bersama, apakah jawabannya : kembali ke “habit” sebelum ramadhan, atau ke pribadi baru yang kokoh dengan nuansa ramadhan yang telah menempanya?jawabannya ada di masing-masing pribadi kita.
Kalau jawabannya kembali ke “habit” semula, ramadhan dan ritualnya tidak lebih sekedar rutinitas tanpa makna, sebatas menggugurkan kewajiban sebagai ummat islam, dan bekasnya tidak masuk ke dalam jiwa, bahkan ia tak mampu membimbing ruh untuk kea rah perubahan. Tetapi kalau jawabannya ramadhan melahirkan pribadi baru yang penuh kebaikan, berbagi, peduli, takut pada hukum Allah, dan pengakuan ada kehidupan setelah kematian serta ada tujuan yang kekal, yang kemudian melahirkan kesadaran dari hati, diucapkan dengan lisan, dilaksanakan oleh raga dan dimplementasikan oleh perbuatan, maka ramadhan menjadi media teologisme untuk mencapai ketauhidan yang hakiki, karena setelah lebaran, seluruh pikiran dan aktivitasnya senantiasa diwarnai oleh kebaikan dan untuk kebaikan.
Implementasinya sebagai seorang birokrat maka semua aktivitas kerja yang dilakukan merupakan pengabdian terbaik bagi masyarakat dan daerah, sehingga semua pikiran dan aktivitasnya senantiasa berproduksi untuk kemaslahatan ummat, menggapai kesejahteraan bersama. Bagaimana itu dilakukan? Semuanya dalam satu filosofi ketauhidan “karena  Allah SWT”. Marilah kita renungkan, kalau pengakuan ketauhidan kita menuntun kita takut pada hukum Allah maka semua aktivitas kita insyaallah berjalan lurus, bersih dan baik. Apakah mengambil yang bukan haknya dibenarkan? Apakah bertindak zalim dibenarkan? Apakah berbuat curang dibenarkan? Apakah melakukan maksiat dibenarkan? Apakah korupsi, kolusi dan nepotisme halal dan dibenarkan? Jawabannya tentu melanggar hukum Allah SWT. Karenanya, dengan berkah ramadhan marilah kita fitrikan hati, karena dengan hati yang bersih dan suci, semua aktivitas kebaikan kita dimudahkan, jalan lempang dibukakan, dan karunia serta kesejahteraan dicurahkan, semua itu untuk pengabdian terbaik bagi masyarakat dan daerah Hulu Sungai Selatan yang kita cintai, amien.

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: " kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa”, (QS. An-Nahl, 16: 30)